Sekilas judul diatas mengindikasikan bahwa saya (penulis) adalah seorang
budayawan “atau bisa di bilang pengamat budaya”. Tidak, saya juga sama
seperti kalian,orang yang hidup di lingkungan yang kaya dengan
pluralisme “kalau memang benar adanya”. Saya warga asli solo,tapi saya
bukan lahir dari keluarga ningrat atau apapun yang bersangkutan dengan
yang namanya budaya. tapi saya rasa,budaya bukan milik keturunan ningrat
semata! kita berhak dan bahkan wajib untuk mencintai budaya kita
sendiri. Ini cerita tentang secuil pentas kebudayaan yang masih ada di
kota saya (solo) sampai sekarang,ya seperti judul di atas “SEKATEN”. apa
itu sekaten? saya rasa kalian bisa mencari tau tentang sejarah nya di
berbagai media,karena disini saya tidak ingin menceritakan tentang
sejarah sekaten itu sendiri,melainkan realita tentang sekitar saya yang
sangat amat saya rasakan. terlalu basa basi ya,jka saya harus bernarasi
disini!?? yaa.. saya masih ingat ketika saya masih di usia anak SD,
begitu bahagianya saya melihat kerumunan orang di tengah lapangan yang
di sulap layaknya dunia fantasi “bukan DUFAN yang di ibu kota lo ya!”
orang tua saya,hampir setiap tahun mengajak saya ke pasar rakyat
sekaten. saya coba membuka memori otak saya, apa yang saya jumpai disana
waktu itu sehingga saya begitu antusias untuk datang ke sekaten? Arena
bermain? aneka kuliner? atau suasana nya? saya rasa semuanya. saya rasa
pula semua anak di usia yang bisa di bilang “kanak-kanak” pasti mereka
punya perasaan yang sama dengan saya. nah dari memori saya itu,saya
mencoba untuk mengkerucutkan pertanyaan saya sendiri saat ini. kenapa
teman sebaya saya yang dulu begitu antusias,sekarang sudah merasa malas
untuk datang ke sekaten? bahkan mereka meng-judge datang ke sekaten itu
buang-buang waktu,norak atau apalah! saya heran, begitu cepatnya fase
mengubah pola pikir kita,begitu mudahnya mereka di dikte bahkan di sulap
menjadi manusia super modern. bukanya sekaten adalah tradisi kota kita
“walaupun ada unsur agamis di dalam nya,tapi bukan itu nya yang saya
bahas” yang harus kita lestarikan. bukankah begitu seharusnya? ya atau
tidak nya,itu hak kalian sih. Sedikit bingung ketika saya melihat
kenyataan tentang budaya di sekitar saya “bukan cuma di kota saya”. ada
dinas kebudayaan,ada dinas pariwisata,bahkan ada institusi-institusi
yang “katanya” bergerak di bidang kebudayaan. tapi saya rasa,tanpa
merekapun kita semua bagian dari apa yang namanya budaya itu sendiri.
banyak para budayawan mendiskripsikan budaya menurut pola pikir mereka,
bla..bla..bla.., saya gak tau lah, saya hanya orang biasa yang mencoba
merespon keadaan di sekeliling saya. nah ingat mulai dari masalah
ANGKLUNG, REOG PONOROGO, TARI PENDET, dan BATIK. atau mungkin banyak
masalah lain yang saya tidak tau. masalahanya sama, pengeklaiman.
bercermin dari masalah itu sebaiknya kita mulailah dari sekarang untuk
mencintai budaya ataupun tradisi lokal. balik lagi ke masalah sekaten,
semakin berkebangnya kota solo secara tata kota, iptek, dan daya
konsumtif masyarakat yang begitu di dikte oleh pasar,menjadikan sekaten
sebagai tolak ukur pergaulan remaja saat ini. ini lucu,bahkan ironis!
kenapa? ya,menurut saya, seberapa pentingkah pergaulan modern
sampai-sampai kita lupa tradisi ? ini bukan salah si-fase nya kok, ini
masalah ada di otak kita masing-masing, pikir saya begini, antara pola
pikir orang kota dan pola pikir orang desa, kenapa harus di
pisahkan,kalian lupa ya,kalu kita sejatinya hidup di agraris yang
kental? kota dan desa seakan menjadi 2 hal yang sangat berlawanan.
memang sejatinya itu adalah dua hal yang berbeda, cuma perbedaan yang
dimaksud di sini adalah perbedaan teritorial semata, kalaupun sampai ada
perbedaan masalah pola pikir,pergaulan,atau apapun yang bisa melepaskan
kita dari sebuah persatuan,saya rasa kalian harus lebih dewasa
menyikapinya! saya ingat perkataan orang-orang tua jaman dahulu “Nek ora
enek wong ndeso,kowe wis mati kaliren le” atau dalam bahasa indonesia
nya “kalau tidak ada orang desa,kamu sudah mati kelaparan” pikir lagi
deh,perkataan itu, saya rasa benar. terserah menurut kalian, apa kita
mau selamanya menjadi budak konsumen orang asing?. Apalagi akhir-akhir
ini saya sering menjumpai show-show spektakuler yang mampir ke kota solo
dengan me label kan KEBUDAYAAN dengan biaya ratusan juta! ini satu
bentuk komoditas kalau saya rasa! bukanya alih fungsi sih,cuman sedikit
melenceng dari labelnya! nah,kadang itu yang jadi daya tarik remaja
untuk malahan sangat antusias menghadiri pentas spektakuler itu. “apa
menurut mereka sekaten tidak spektakuler?” tapi coba lihat panggung
mengah yang berdiri di tanah kota ini,tapi bukan masyarakat kota ini
yang ada di atas panggung megah itu,bukanya kita kaya dengan ragam
budaya? bukanya sewaktu kita sekolah dulu kita harus mengikuti pelajaran
tentang kebudayaan? tapi hanya orang yang berada di balik tirai
petinggilah yang di anggap bertalenta dan layak berada di antara mereka !
apa itu adil? saya keliru? saya merasakan,saya punya banyak fakta!
bahkan saya berfikir,ini nepotisme dalam seni dan budaya. saya
sebetulnya,tidak begitu peduli dengan apa yang mereka inginkan dari
setiap pagelaran yang mereka sajikan. ada yang orientasinya uang,ada
yang ingin mengenalkan,ada yang ingin mempertahankan nilai, terserahlah,
ya,semoga tujuan mereka positif untuk kota ini. lagi,kita lebih
antusias untuk datang ke mall “setiap hari” dibanding datang ke sekaten
“Sebulan sekali” kenapa? ada yang salah dengan sekaten?
Ini sepenggal cerita saya ketika baru saja saya mengunjungi sekaten solo
“semalam sebelum saya menulis ini” seperti orang pada umumnya,
berjalan-jalan,menikmati wahana,kuliner dan membeli sedikit oleh-oleh
tanah liat yang memang sudah saya dan kawan-kawan rencnakan sebelumnya.
saya bertemu dan sedikit berbincang dengan kakek dan nenek penjual
mainan tanah liat itu seusai saya bertransaksi. “tapi sayang nya saya
lupa tanya nama! hehe”
saya: mbah, daleme pundi? ( kek,rumahnya mana?)
kakek: jeporo le (jepara nak)
saya: sampun dangu mbah mande ngeten niki? (sudah lama berjualan barang seperti ini)
kakek: koe sok durung lair le,aku dodolan ket taun 1977,awiwit banjir
gede kae (kamu,pasti belum lahir nak,saya jualan sejak tahun 1977,pasca
banjir besar yang melanda kota solo dulu)
saya: weh,nggih dangu sanget nggih mbah? niku mbahe nggih sadean teng
sekaten solo mriki terus wanci taunipun? (weh,lama juga ya mbah,itu
kakek jualan di sekaten solo ini setiap tahun nya?)
kakek: ho’o nak, tapi saiki sekaten wis ora koyo ndisik,sepi,gek arang
payu,nek payupun bathine jane yo ora sepiro’o nak,nanging yo
rapopolah,wis ora jamane sok’e ( iya nak,tapi sekarang sekaten sepi
sudah tidak seperti dulu,jarang laku,kalaupun laku laba yang di dapat
gak seberapa,tapi ya gak apalah,mungkin sudah tidak jaman nya) “ketika
kakek itu menjawab demikian,saya jelas melihat raut wajar kakek yang
sangat kecewa,tapi mulut kakek itu sembari menyiratkan senyum
kecil,mungkin isyarat bahwa kakek itu tetap bersyukur dengan apapun yang
ia dapatkan. ini motivasi ! lanjut saya berbincang..
saya: loh,kok mboten sepiro’o mbah batine? la nopo bahan ne niki tumbas
sedanten? (loh kok gak seberapa kek,apa semua bahan ini beli?)
kakek: iki kulakan le, wis enek juragane dewe (ini semua kakek ambil
dari juragan kakek nak) “saya sangat terkejut,dan saya tidak mau
bertanya lebih jauh masalah si tuan yang menjadi bos dari kakek
tersebut!,di benak saya hanyalah,semoga kakek ini mendapat upah dan laba
yang setimpal dengan jerih payah nya yang luar biasa,di usia yang sudah
tua”
sebenarnya ada beberapa pertanyaan ringan yang saya obrolkan dengan
kakek itu,cuman saya cuman tulis beberapa poin penting dari obrolan
ringan saya dengan si kakek. dan saya rasa kakek itu adalah 1 dari
puluhan orang yang mungkin merasakan hal yang sama, ya,dampak dari
semakin mengikisnya antusias orang untuk mengunjungi sekaten “apalagi
remaja” kalaupun ada yang mau datang tujuan utamanya tidaklah ke area
mainan tanah liat yang dulu seakan jadi barang wajib yang harus di beli
jika kita berkunjung ke sekaten. ,elainkan ke warung-warung makanan
“yang sebenarnya bisa kita jumpai setiap hari,dimanapun” atau ke
tempat-tempat yang memang di display layaknya tempat hang-out yang
meriah “mungkin ini strategi pemasaran”. statement saya barusan bukan
berarti saya mengindikasikan kalian untuk tidak makan di warung sekaten,
atau lebih mempromosikan barang-barang si kakek dan kawan-kawan nya
yang saya ceritakan di atas tadi. bukan! saya rasa kalian tau maksud
saya. nah,poin yang saya ambil dari kunjungan saya ke tahun-tahun
belakangan ini adalah,sekaten memang salah satu budaya asli kota
kita,tapi modernisasi yang setiap hari di hadapkan di lingkungan kita
lama-lama mendikte kita untuk ikut di dalam nya,lagi-lagi masalah ini,
dan ternyata dampak dari globalisasi,modernisasi,atau segala bentuk
kemajuan dan kemudahan di era sekarang berdampak di banyak kalangan.
ironis bukan?!! sekarang tinggal bagaimana kita menyikapinya,hidup
memang harus seimbang,dan bagaimana cara kita menyeimbangkan,itu pilihan
hidup kalian. pesan saya,jangan buka mata dan pikiran kalian saat
buadaya kita di klaim bangsa lain saja,tapi bukalah keduanya setiap
saat,karena kita lekat dengan budaya itu sendiri.kita wajib,berhak untuk
melestarikan nya,jika kita rela melestarikan budaya kita,dan kita
menjadi orang yang berbudaya “bukan budayawan” pasti hidup akan lebih
harmonis. semoga.
-cix moreno-