Friday, January 25, 2013

Eksplanasi lirik lagu M.C.P.R - Suara nurani

Kita bukanlah binatang mereka
yang dipelihara lalu siap dimangsa
kita tak pegang longsong senjata
tetapi tak harus tunduk kepada mereka
kita manusia merdeka
manusiakan kami tuan
kita manusia merdeka
kami menolak menjadi hamba
tak kan ada yang menghentikan
tak kan ada yang membungkam
suara nurani tak kan terbeli
pemikiranku tak kan mati

Itulah tadi lirik lagu dari M.C.P.R yang berjudul "Suara nurani" pada intinya, lagu tersebut adalah sebuah bentuk protes kepada semua bentuk eksploitasi yang ada di sekitar kita. saya (penulis) merasakan sangat bahwa kekejaman eksploitasi manusia masih dan terus ada hingga hari ini. Parah! Manusia terkadang dijadikan mesin pencetak uang oleh manusia yang lain, kesenjangan kuat dan lemah semakin terasa, hitam dan putih tidak lagi berharmoni dan bersenyawa terlebih malah menjadi kontra! "Budak industri" sebagian kritikus menyebutnya seperti itu, dan siapa yang dimaksud budak? tentulah orang yang lemah, lemah dalam arti materi,pola pikir,bahkan lemah secara pengalaman dan pendidikan! Ini ironi, ketika negara ini sedang gencar-gencar nya melakukan moderenisasi, dan mencoba mensetarakan derajat rakyat nya dengan tolak ukur negara tetangga, mereka tidak sadar bahwa gelombang globalisasi mengancam bangsa ini. semakin banyak nya pabrik-pabrik industri yang menjadi monster ekosistem negara agraris kita ini. semakin banyak masyarakat yang kehilangan tempat tinggal nya karena penggusuran, semakin banyak investor asing yang menari di atas panggung penderitaan rakyat negeri ini. Apa kita harus diam melihat ironi negeri yang semakin parah setiap detik nya? Di jaman penjajahan,eksploitasi seperti ini mungkin tidak seberapa di banding penyiksaan jaman sejarah seperti yang sama kita tahu dalam sejarah kepahlawanan indonesia hingga terjadinya kemerdekaan dan revolusi. Tapi bukankah 17 agustus 1945, di tetapkan sebagai hari kemerdekaan rakyat indonesia? "bodoh dan retoris sekali pertanyaan saya" tapi kebodohan itu saya rasakan karena hingga detik ini,masih banyak orang yang sama sekali tidak merasakan hasil dari benih kemerdekaan kita 68 tahun silam! kemana kemerdekaan kita? apakah hanya menjadi sejarah dan harapan? tidak! kita harus bergerak,kita harus berbenah,kita harus berontak! mulai dari kesadaran diri kita masing-masing untuk dapat menciptakan sebuah api revolusi baru,yang akan membentuk sebuah tatanan baru dalam kehidupan kita masing-masing, dan tentunya untuk sebuah kehidupan yang lebih baik. Ini demokrasi,kita punya hak untuk melakukan sebuah resistensi. Jangan mau di perbudak oleh apapun, karena kita adalah manusia merdeka, kita manusiakan diri kita, hati nurani kitalah yang akan menuntun langkah kemana kita akan beranjak! teruslah bergerak,teruslah berfikir,jangan diam!

Postscript: silahkan download lagu nya di link berikut: http://www.reverbnation.com/moocacaboelpunk

Apa kau sudah bangun ?

Terkadang saya melihat di sekitar, hidup seakan-akan adalah suatu hal yang mudah di tebak, dan seakan-akan pula banyak orang yang bisa membuat dunianya sendiri. Ada yang bilang ini modernisasi, ini era globalisasi, ini jaman modern, segala sesuatu bisa di akses, bisa dibeli, bisa didapatkan! Benarkah? Hhmm??!!! Kita memang bisa membuat dunia kita sendiri “sekedar kiasan” seperti ketika kita asik dengan telepon genggam/ipad kita, dan kita bisa mengetahui apa yang terjadi di belahan dunia manapun dan dimanapun kita berada dengan mudah, hanya dengan cara mengakses berita melalui media online. Memang itu terkesan suatu hal yang mengasyikan, dan suatu cara yang menunjukan bahwasanya manusia semakin pintar, “tentu bagus bukan?” Saya rasa itu wajar, karena biar bagaimanapun kita tidak bisa menolak kemudahan-kemudahan itu “bagi sebagian orang”. Tetapi terkadang saya heran, tipis sekali batasan antara maya dan nyata. Bukankah pada dasarnya itu adalah 2 hal yang sangat jauh berbeda, bahkan bisa dibilang mereka berantonim?! Bagai hitam dan putih naturalnya, tapi menjadi hal yang dipaksa kontaminasi oleh jaman dan menjadi abu-abu. Banyak pangkal problematika yang bermula dari media online. Dari hal yang paling konyol semisal adu argumen di status facebook/YM/BBM/twitter, atau saling meng-intrik lewat blogspot pribadi yang bisa di akses siapa saja. Ada yang bilang mencemarkan nama baik, ada yang bilang ini masalah harga diri! Ahh!! Watefak! Bagi saya situs jejaring sosial seperti di atas sekarang sudah sedikit alih fungsi. Siapa yang salah? Medianya? Penggunanya? Retoris jika saya harus bertanya, anda pasti tahu jawabanya. Itu dari segi permasalahan kecil, ada juga yang menjadikan jejaring sosial seperti itu sebagai ajang cari jodoh “wajar sih sebenarnya, karena itu menjadi bagian dari hidup” bahkan parahnya ada yang bisa membeli ideologi dari situ dan maraknya kasus pembajakan karya. Memang saya tidak begitu paham untuk apa jejaring sosial seperti itu dibuat, untuk benefit si owner-owner terkaitkah, atau untuk mempermudah komunikasi, atau untuk apa saya tidak tau, yang pasti alasan itu saya rasa bersimbiosis. Ada kritikus yang berpendapat bahwa media seperti itu malah memisahkan manusia dengan manusia lainya. Tidak begitu juga sih kalau menurut saya, kembali lagi bagaimana kita memberi porsi dalam setiap aktivitas hidup kita masing-masing. Jika semua bisa berjalan seimbang saya rasa itu tidak menjadi sebuah masalah besar. Tapi jika kita begitu menghamba dengan hal-hal seperti itu memang terkadang kita menjadi apatis (autis) terhadap dunia sekitar kita. Hidup yang kita jalani sebenarnya adalah kehidupan yang nyata, dan jangan mengabaikan itu! Bagi orang jaman dulu mungkin kemudahan seperti ini adalah mimpi, dan sekarang mimpi itu menjadi nyata, tapi kita malah asyik bermain di dalam mimpi kita, dan kita terkadang melupakan kehidupan kita yang sebenarnya. Jangan begitu larut dalam mimpi-mimpi seperti itu, karena sejatinya kita sudah diberi kemudahan yang lebih bisa membuat kita mengerti arti kehidupan itu sendiri. Coba buka mata kita, dunia ini luas tidak hanya seluas layar HP yang sedang anda genggam, dan semua hal yang ada di dunia ini adalah bagian dari sebuah proses.
Saya bukan orang yang anti media atau anti apapun, hanya sekedar mencoba merespon apa yang terjadi di sekitar saya, dan ini sangat saya rasakan, apakah kau juga merasakan? Mungkin sudah, mungkin juga belum. Kenapa kau bingung? Apa kau masih larut dalam mimpi itu? Dan sekarang, apakah kau sudah bangun?

Postscript: Catatan ini telah di muat dalam versi cetak (Fotocopy buram zine / Solo)

SEKATEN ( Antara tradisi dan gengsi )

Sekilas judul diatas mengindikasikan bahwa saya (penulis) adalah seorang budayawan “atau bisa di bilang pengamat budaya”. Tidak, saya juga sama seperti kalian,orang yang hidup di lingkungan yang kaya dengan pluralisme “kalau memang benar adanya”. Saya warga asli solo,tapi saya bukan lahir dari keluarga ningrat atau apapun yang bersangkutan dengan yang namanya budaya. tapi saya rasa,budaya bukan milik keturunan ningrat semata! kita berhak dan bahkan wajib untuk mencintai budaya kita sendiri. Ini cerita tentang secuil pentas kebudayaan yang masih ada di kota saya (solo) sampai sekarang,ya seperti judul di atas “SEKATEN”. apa itu sekaten? saya rasa kalian bisa mencari tau tentang sejarah nya di berbagai media,karena disini saya tidak ingin menceritakan tentang sejarah sekaten itu sendiri,melainkan realita tentang sekitar saya yang sangat amat saya rasakan. terlalu basa basi ya,jka saya harus bernarasi disini!?? yaa.. saya masih ingat ketika saya masih di usia anak SD, begitu bahagianya saya melihat kerumunan orang di tengah lapangan yang di sulap layaknya dunia fantasi “bukan DUFAN yang di ibu kota lo ya!” orang tua saya,hampir setiap tahun mengajak saya ke pasar rakyat sekaten. saya coba membuka memori otak saya, apa yang saya jumpai disana waktu itu sehingga saya begitu antusias untuk datang ke sekaten? Arena bermain? aneka kuliner? atau suasana nya? saya rasa semuanya. saya rasa pula semua anak di usia yang bisa di bilang “kanak-kanak” pasti mereka punya perasaan yang sama dengan saya. nah dari memori saya itu,saya mencoba untuk mengkerucutkan pertanyaan saya sendiri saat ini. kenapa teman sebaya saya yang dulu begitu antusias,sekarang sudah merasa malas untuk datang ke sekaten? bahkan mereka meng-judge datang ke sekaten itu buang-buang waktu,norak atau apalah! saya heran, begitu cepatnya fase mengubah pola pikir kita,begitu mudahnya mereka di dikte bahkan di sulap menjadi manusia super modern. bukanya sekaten adalah tradisi kota kita “walaupun ada unsur agamis di dalam nya,tapi bukan itu nya yang saya bahas” yang harus kita lestarikan. bukankah begitu seharusnya? ya atau tidak nya,itu hak kalian sih. Sedikit bingung ketika saya melihat kenyataan tentang budaya di sekitar saya “bukan cuma di kota saya”. ada dinas kebudayaan,ada dinas pariwisata,bahkan ada institusi-institusi yang “katanya” bergerak di bidang kebudayaan. tapi saya rasa,tanpa merekapun kita semua bagian dari apa yang namanya budaya itu sendiri. banyak para budayawan mendiskripsikan budaya menurut pola pikir mereka, bla..bla..bla.., saya gak tau lah, saya hanya orang biasa yang mencoba merespon keadaan di sekeliling saya. nah ingat mulai dari masalah ANGKLUNG, REOG PONOROGO, TARI PENDET, dan BATIK. atau mungkin banyak masalah lain yang saya tidak tau. masalahanya sama, pengeklaiman. bercermin dari masalah itu sebaiknya kita mulailah dari sekarang untuk mencintai budaya ataupun tradisi lokal. balik lagi ke masalah sekaten, semakin berkebangnya kota solo secara tata kota, iptek, dan daya konsumtif masyarakat yang begitu di dikte oleh pasar,menjadikan sekaten sebagai tolak ukur pergaulan remaja saat ini. ini lucu,bahkan ironis! kenapa? ya,menurut saya, seberapa pentingkah pergaulan modern sampai-sampai kita lupa tradisi ? ini bukan salah si-fase nya kok, ini masalah ada di otak kita masing-masing, pikir saya begini, antara pola pikir orang kota dan pola pikir orang desa, kenapa harus di pisahkan,kalian lupa ya,kalu kita sejatinya hidup di agraris yang kental? kota dan desa seakan menjadi 2 hal yang sangat berlawanan. memang sejatinya itu adalah dua hal yang berbeda, cuma perbedaan yang dimaksud di sini adalah perbedaan teritorial semata, kalaupun sampai ada perbedaan masalah pola pikir,pergaulan,atau apapun yang bisa melepaskan kita dari sebuah persatuan,saya rasa kalian harus lebih dewasa menyikapinya! saya ingat perkataan orang-orang tua jaman dahulu “Nek ora enek wong ndeso,kowe wis mati kaliren le” atau dalam bahasa indonesia nya “kalau tidak ada orang desa,kamu sudah mati kelaparan” pikir lagi deh,perkataan itu, saya rasa benar. terserah menurut kalian, apa kita mau selamanya menjadi budak konsumen orang asing?. Apalagi akhir-akhir ini saya sering menjumpai show-show spektakuler yang mampir ke kota solo dengan me label kan KEBUDAYAAN dengan biaya ratusan juta! ini satu bentuk komoditas kalau saya rasa! bukanya alih fungsi sih,cuman sedikit melenceng dari labelnya! nah,kadang itu yang jadi daya tarik remaja untuk malahan sangat antusias menghadiri pentas spektakuler itu. “apa menurut mereka sekaten tidak spektakuler?” tapi coba lihat panggung mengah yang berdiri di tanah kota ini,tapi bukan masyarakat kota ini yang ada di atas panggung megah itu,bukanya kita kaya dengan ragam budaya? bukanya sewaktu kita sekolah dulu kita harus mengikuti pelajaran tentang kebudayaan? tapi hanya orang yang berada di balik tirai petinggilah yang di anggap bertalenta dan layak berada di antara mereka ! apa itu adil? saya keliru? saya merasakan,saya punya banyak fakta! bahkan saya berfikir,ini nepotisme dalam seni dan budaya. saya sebetulnya,tidak begitu peduli dengan apa yang mereka inginkan dari setiap pagelaran yang mereka sajikan. ada yang orientasinya uang,ada yang ingin mengenalkan,ada yang ingin mempertahankan nilai, terserahlah, ya,semoga tujuan mereka positif untuk kota ini. lagi,kita lebih antusias untuk datang ke mall “setiap hari” dibanding datang ke sekaten “Sebulan sekali” kenapa? ada yang salah dengan sekaten?
Ini sepenggal cerita saya ketika baru saja saya mengunjungi sekaten solo “semalam sebelum saya menulis ini” seperti orang pada umumnya, berjalan-jalan,menikmati wahana,kuliner dan membeli sedikit oleh-oleh tanah liat yang memang sudah saya dan kawan-kawan rencnakan sebelumnya. saya bertemu dan sedikit berbincang dengan kakek dan nenek penjual mainan tanah liat itu seusai saya bertransaksi. “tapi sayang nya saya lupa tanya nama! hehe”
saya: mbah, daleme pundi? ( kek,rumahnya mana?)
kakek: jeporo le (jepara nak)
saya: sampun dangu mbah mande ngeten niki? (sudah lama berjualan barang seperti ini)
kakek: koe sok durung lair le,aku dodolan ket taun 1977,awiwit banjir gede kae (kamu,pasti belum lahir nak,saya jualan sejak tahun 1977,pasca banjir besar yang melanda kota solo dulu)
saya: weh,nggih dangu sanget nggih mbah? niku mbahe nggih sadean teng sekaten solo mriki terus wanci taunipun? (weh,lama juga ya mbah,itu kakek jualan di sekaten solo ini setiap tahun nya?)
kakek: ho’o nak, tapi saiki sekaten wis ora koyo ndisik,sepi,gek arang payu,nek payupun bathine jane yo ora sepiro’o nak,nanging yo rapopolah,wis ora jamane sok’e ( iya nak,tapi sekarang sekaten sepi sudah tidak seperti dulu,jarang laku,kalaupun laku laba yang di dapat gak seberapa,tapi ya gak apalah,mungkin sudah tidak jaman nya) “ketika kakek itu menjawab demikian,saya jelas melihat raut wajar kakek yang sangat kecewa,tapi mulut kakek itu sembari menyiratkan senyum kecil,mungkin isyarat bahwa kakek itu tetap bersyukur dengan apapun yang ia dapatkan. ini motivasi ! lanjut saya berbincang..
saya: loh,kok mboten sepiro’o mbah batine? la nopo bahan ne niki tumbas sedanten? (loh kok gak seberapa kek,apa semua bahan ini beli?)
kakek: iki kulakan le, wis enek juragane dewe (ini semua kakek ambil dari juragan kakek nak) “saya sangat terkejut,dan saya tidak mau bertanya lebih jauh masalah si tuan yang menjadi bos dari kakek tersebut!,di benak saya hanyalah,semoga kakek ini mendapat upah dan laba yang setimpal dengan jerih payah nya yang luar biasa,di usia yang sudah tua”
sebenarnya ada beberapa pertanyaan ringan yang saya obrolkan dengan kakek itu,cuman saya cuman tulis beberapa poin penting dari obrolan ringan saya dengan si kakek. dan saya rasa kakek itu adalah 1 dari puluhan orang yang mungkin merasakan hal yang sama, ya,dampak dari semakin mengikisnya antusias orang untuk mengunjungi sekaten “apalagi remaja” kalaupun ada yang mau datang tujuan utamanya tidaklah ke area mainan tanah liat yang dulu seakan jadi barang wajib yang harus di beli jika kita berkunjung ke sekaten. ,elainkan ke warung-warung makanan “yang sebenarnya bisa kita jumpai setiap hari,dimanapun” atau ke tempat-tempat yang memang di display layaknya tempat hang-out yang meriah “mungkin ini strategi pemasaran”. statement saya barusan bukan berarti saya mengindikasikan kalian untuk tidak makan di warung sekaten, atau lebih mempromosikan barang-barang si kakek dan kawan-kawan nya yang saya ceritakan di atas tadi. bukan! saya rasa kalian tau maksud saya. nah,poin yang saya ambil dari kunjungan saya ke tahun-tahun belakangan ini adalah,sekaten memang salah satu budaya asli kota kita,tapi modernisasi yang setiap hari di hadapkan di lingkungan kita lama-lama mendikte kita untuk ikut di dalam nya,lagi-lagi masalah ini, dan ternyata dampak dari globalisasi,modernisasi,atau segala bentuk kemajuan dan kemudahan di era sekarang berdampak di banyak kalangan. ironis bukan?!! sekarang tinggal bagaimana kita menyikapinya,hidup memang harus seimbang,dan bagaimana cara kita menyeimbangkan,itu pilihan hidup kalian. pesan saya,jangan buka mata dan pikiran kalian saat buadaya kita di klaim bangsa lain saja,tapi bukalah keduanya setiap saat,karena kita lekat dengan budaya itu sendiri.kita wajib,berhak untuk melestarikan nya,jika kita rela melestarikan budaya kita,dan kita menjadi orang yang berbudaya “bukan budayawan” pasti hidup akan lebih harmonis. semoga.

-cix moreno-

Celoteh rindu alam

Add caption
Pagi ini aku benar-benar merasa asing di tempat yang sudah lama tak aku singgahi,Kanan kiriku hanyalah bongkahan bebatuan,kayu,dan sisa-sisa bungkus makanan. Sepasang enggang gading yang dulu menyapaku setiap pagi kini entah kemana, Mataku mencarinya di setiap sudut tempat aku berdiri sekarang, Tapi aku tak mejumpainya,bahkan aku tak menjumpai dahan dan ranting tempat dulu mereka hinggap dan memberiku senyum seiring embun pagi menyapaku,Udara pun tak sesegar dahulu,dimana aku sekarang ? apa aku tersesat? Sejengkal aku melangkahkan kaki menuju tempat dimana dulu ada otong dan kawan-kawan nya berkumpul, ya..dia adalah sekumpulan domba yang mencari makan di tempat ini “dulu”. Ternyata mereka masih ada, tapi sesaat mata dan hatiku terkejut! mulutkupun bergumam melihat mereka hanya diam dengan tatapan wajah yang lesu,badan nya pun mengurus, itu kah kalian yang dulu? apa itu benar otong? ya benar,itu otong, tapi kenapa kamu kurus sekali? dimana rerumputan itu tong? tidak mungkin habis kau makan! aku tau alam ini tidak sejahat berita bencana yang hiperbola! kemudian aku melangkahkan kakiku sedikit jauh dari tempat aku berdiri sekarang,aku berusaha menemui sahabatku yang lain, ya aku rindu pino dan poni,dua ekor ikan guppy yang sengaja aku lepas mereka di parit ini, merekapun hilang! mereka hilang! kemana mereka? kepada siapa aku betanya? tapi kenapa parit itu masih ada? tapi kenapa hanya sampah dan genangan air kotor yang menghuni kolam surga itu? apa pino dan poni ada di balik gundukan sampah neraka itu? tidak! merekapun hilang! mungkin juga mereka mati! kemana jernih airku? kenapa biru yang mengalir? kenapa sampah yang mengambang? kenapa? kenapa tuhan?!! Hari semakin siang, tempat ini yang biasa ramai dengan celoteh merdu enggang gading yang bernyanyi,suara gaduh otong dan kawan-kawan nya bermain di rerumputan,dan gemercik merdu dan tarian pino dan poni,sekarang tiada lagi! aku menengok ke atas,suara gaduh mesin-mesin kota mulai mendominasi di jam 9 pagi ini, aku melihat saudara-saudara ku yang dulu, begitu bangga memakai caping,membawa cangkul dan serantang makanan bekal untuk siang hari, sekarang berbaur dengan mesin-mesin proyek yang seakan menjadi monster alam! Wahai tuan modernisasi dan globalisasi, masih adakah ruang untuk kami merasakan karunia alam bebas ini? masih adakah yang kau sisakan untuk kami? kami memang butuh uang,tapi alam ini lebih berharga daripada segepok dolar mu tuan tanah! kembalikan alamku,kembalikan lestariku,kembalikan agrarisku,kembalikan tuan..kembalikan!
-Cix moreno-