Terkadang saya melihat di sekitar, hidup seakan-akan adalah suatu hal
yang mudah di tebak, dan seakan-akan pula banyak orang yang bisa membuat
dunianya sendiri. Ada yang bilang ini modernisasi, ini era globalisasi,
ini jaman modern, segala sesuatu bisa di akses, bisa dibeli, bisa
didapatkan! Benarkah? Hhmm??!!! Kita memang bisa membuat dunia kita
sendiri “sekedar kiasan” seperti ketika kita asik dengan telepon
genggam/ipad kita, dan kita bisa mengetahui apa yang terjadi di belahan
dunia manapun dan dimanapun kita berada dengan mudah, hanya dengan cara
mengakses berita melalui media online. Memang itu terkesan suatu hal
yang mengasyikan, dan suatu cara yang menunjukan bahwasanya manusia
semakin pintar, “tentu bagus bukan?” Saya rasa itu wajar, karena biar
bagaimanapun kita tidak bisa menolak kemudahan-kemudahan itu “bagi
sebagian orang”. Tetapi terkadang saya heran, tipis sekali batasan
antara maya dan nyata. Bukankah pada dasarnya itu adalah 2 hal yang
sangat jauh berbeda, bahkan bisa dibilang mereka berantonim?! Bagai
hitam dan putih naturalnya, tapi menjadi hal yang dipaksa kontaminasi
oleh jaman dan menjadi abu-abu. Banyak pangkal problematika yang bermula
dari media online. Dari hal yang paling konyol semisal adu argumen di
status facebook/YM/BBM/twitter, atau saling meng-intrik lewat blogspot
pribadi yang bisa di akses siapa saja. Ada yang bilang mencemarkan nama
baik, ada yang bilang ini masalah harga diri! Ahh!! Watefak! Bagi saya
situs jejaring sosial seperti di atas sekarang sudah sedikit alih
fungsi. Siapa yang salah? Medianya? Penggunanya? Retoris jika saya harus
bertanya, anda pasti tahu jawabanya. Itu dari segi permasalahan kecil,
ada juga yang menjadikan jejaring sosial seperti itu sebagai ajang cari
jodoh “wajar sih sebenarnya, karena itu menjadi bagian dari hidup”
bahkan parahnya ada yang bisa membeli ideologi dari situ dan maraknya
kasus pembajakan karya. Memang saya tidak begitu paham untuk apa
jejaring sosial seperti itu dibuat, untuk benefit si owner-owner
terkaitkah, atau untuk mempermudah komunikasi, atau untuk apa saya tidak
tau, yang pasti alasan itu saya rasa bersimbiosis. Ada kritikus yang
berpendapat bahwa media seperti itu malah memisahkan manusia dengan
manusia lainya. Tidak begitu juga sih kalau menurut saya, kembali lagi
bagaimana kita memberi porsi dalam setiap aktivitas hidup kita
masing-masing. Jika semua bisa berjalan seimbang saya rasa itu tidak
menjadi sebuah masalah besar. Tapi jika kita begitu menghamba dengan
hal-hal seperti itu memang terkadang kita menjadi apatis (autis)
terhadap dunia sekitar kita. Hidup yang kita jalani sebenarnya adalah
kehidupan yang nyata, dan jangan mengabaikan itu! Bagi orang jaman dulu
mungkin kemudahan seperti ini adalah mimpi, dan sekarang mimpi itu
menjadi nyata, tapi kita malah asyik bermain di dalam mimpi kita, dan
kita terkadang melupakan kehidupan kita yang sebenarnya. Jangan begitu
larut dalam mimpi-mimpi seperti itu, karena sejatinya kita sudah diberi
kemudahan yang lebih bisa membuat kita mengerti arti kehidupan itu
sendiri. Coba buka mata kita, dunia ini luas tidak hanya seluas layar HP
yang sedang anda genggam, dan semua hal yang ada di dunia ini adalah
bagian dari sebuah proses.
Saya bukan orang yang anti media atau anti apapun, hanya sekedar mencoba
merespon apa yang terjadi di sekitar saya, dan ini sangat saya rasakan,
apakah kau juga merasakan? Mungkin sudah, mungkin juga belum. Kenapa
kau bingung? Apa kau masih larut dalam mimpi itu? Dan sekarang, apakah
kau sudah bangun?
Postscript: Catatan ini telah di muat dalam versi cetak (Fotocopy buram zine / Solo)
No comments:
Post a Comment