Friday, January 25, 2013

Celoteh rindu alam

Add caption
Pagi ini aku benar-benar merasa asing di tempat yang sudah lama tak aku singgahi,Kanan kiriku hanyalah bongkahan bebatuan,kayu,dan sisa-sisa bungkus makanan. Sepasang enggang gading yang dulu menyapaku setiap pagi kini entah kemana, Mataku mencarinya di setiap sudut tempat aku berdiri sekarang, Tapi aku tak mejumpainya,bahkan aku tak menjumpai dahan dan ranting tempat dulu mereka hinggap dan memberiku senyum seiring embun pagi menyapaku,Udara pun tak sesegar dahulu,dimana aku sekarang ? apa aku tersesat? Sejengkal aku melangkahkan kaki menuju tempat dimana dulu ada otong dan kawan-kawan nya berkumpul, ya..dia adalah sekumpulan domba yang mencari makan di tempat ini “dulu”. Ternyata mereka masih ada, tapi sesaat mata dan hatiku terkejut! mulutkupun bergumam melihat mereka hanya diam dengan tatapan wajah yang lesu,badan nya pun mengurus, itu kah kalian yang dulu? apa itu benar otong? ya benar,itu otong, tapi kenapa kamu kurus sekali? dimana rerumputan itu tong? tidak mungkin habis kau makan! aku tau alam ini tidak sejahat berita bencana yang hiperbola! kemudian aku melangkahkan kakiku sedikit jauh dari tempat aku berdiri sekarang,aku berusaha menemui sahabatku yang lain, ya aku rindu pino dan poni,dua ekor ikan guppy yang sengaja aku lepas mereka di parit ini, merekapun hilang! mereka hilang! kemana mereka? kepada siapa aku betanya? tapi kenapa parit itu masih ada? tapi kenapa hanya sampah dan genangan air kotor yang menghuni kolam surga itu? apa pino dan poni ada di balik gundukan sampah neraka itu? tidak! merekapun hilang! mungkin juga mereka mati! kemana jernih airku? kenapa biru yang mengalir? kenapa sampah yang mengambang? kenapa? kenapa tuhan?!! Hari semakin siang, tempat ini yang biasa ramai dengan celoteh merdu enggang gading yang bernyanyi,suara gaduh otong dan kawan-kawan nya bermain di rerumputan,dan gemercik merdu dan tarian pino dan poni,sekarang tiada lagi! aku menengok ke atas,suara gaduh mesin-mesin kota mulai mendominasi di jam 9 pagi ini, aku melihat saudara-saudara ku yang dulu, begitu bangga memakai caping,membawa cangkul dan serantang makanan bekal untuk siang hari, sekarang berbaur dengan mesin-mesin proyek yang seakan menjadi monster alam! Wahai tuan modernisasi dan globalisasi, masih adakah ruang untuk kami merasakan karunia alam bebas ini? masih adakah yang kau sisakan untuk kami? kami memang butuh uang,tapi alam ini lebih berharga daripada segepok dolar mu tuan tanah! kembalikan alamku,kembalikan lestariku,kembalikan agrarisku,kembalikan tuan..kembalikan!
-Cix moreno-

No comments:

Post a Comment