Friday, January 25, 2013

SEKATEN ( Antara tradisi dan gengsi )

Sekilas judul diatas mengindikasikan bahwa saya (penulis) adalah seorang budayawan “atau bisa di bilang pengamat budaya”. Tidak, saya juga sama seperti kalian,orang yang hidup di lingkungan yang kaya dengan pluralisme “kalau memang benar adanya”. Saya warga asli solo,tapi saya bukan lahir dari keluarga ningrat atau apapun yang bersangkutan dengan yang namanya budaya. tapi saya rasa,budaya bukan milik keturunan ningrat semata! kita berhak dan bahkan wajib untuk mencintai budaya kita sendiri. Ini cerita tentang secuil pentas kebudayaan yang masih ada di kota saya (solo) sampai sekarang,ya seperti judul di atas “SEKATEN”. apa itu sekaten? saya rasa kalian bisa mencari tau tentang sejarah nya di berbagai media,karena disini saya tidak ingin menceritakan tentang sejarah sekaten itu sendiri,melainkan realita tentang sekitar saya yang sangat amat saya rasakan. terlalu basa basi ya,jka saya harus bernarasi disini!?? yaa.. saya masih ingat ketika saya masih di usia anak SD, begitu bahagianya saya melihat kerumunan orang di tengah lapangan yang di sulap layaknya dunia fantasi “bukan DUFAN yang di ibu kota lo ya!” orang tua saya,hampir setiap tahun mengajak saya ke pasar rakyat sekaten. saya coba membuka memori otak saya, apa yang saya jumpai disana waktu itu sehingga saya begitu antusias untuk datang ke sekaten? Arena bermain? aneka kuliner? atau suasana nya? saya rasa semuanya. saya rasa pula semua anak di usia yang bisa di bilang “kanak-kanak” pasti mereka punya perasaan yang sama dengan saya. nah dari memori saya itu,saya mencoba untuk mengkerucutkan pertanyaan saya sendiri saat ini. kenapa teman sebaya saya yang dulu begitu antusias,sekarang sudah merasa malas untuk datang ke sekaten? bahkan mereka meng-judge datang ke sekaten itu buang-buang waktu,norak atau apalah! saya heran, begitu cepatnya fase mengubah pola pikir kita,begitu mudahnya mereka di dikte bahkan di sulap menjadi manusia super modern. bukanya sekaten adalah tradisi kota kita “walaupun ada unsur agamis di dalam nya,tapi bukan itu nya yang saya bahas” yang harus kita lestarikan. bukankah begitu seharusnya? ya atau tidak nya,itu hak kalian sih. Sedikit bingung ketika saya melihat kenyataan tentang budaya di sekitar saya “bukan cuma di kota saya”. ada dinas kebudayaan,ada dinas pariwisata,bahkan ada institusi-institusi yang “katanya” bergerak di bidang kebudayaan. tapi saya rasa,tanpa merekapun kita semua bagian dari apa yang namanya budaya itu sendiri. banyak para budayawan mendiskripsikan budaya menurut pola pikir mereka, bla..bla..bla.., saya gak tau lah, saya hanya orang biasa yang mencoba merespon keadaan di sekeliling saya. nah ingat mulai dari masalah ANGKLUNG, REOG PONOROGO, TARI PENDET, dan BATIK. atau mungkin banyak masalah lain yang saya tidak tau. masalahanya sama, pengeklaiman. bercermin dari masalah itu sebaiknya kita mulailah dari sekarang untuk mencintai budaya ataupun tradisi lokal. balik lagi ke masalah sekaten, semakin berkebangnya kota solo secara tata kota, iptek, dan daya konsumtif masyarakat yang begitu di dikte oleh pasar,menjadikan sekaten sebagai tolak ukur pergaulan remaja saat ini. ini lucu,bahkan ironis! kenapa? ya,menurut saya, seberapa pentingkah pergaulan modern sampai-sampai kita lupa tradisi ? ini bukan salah si-fase nya kok, ini masalah ada di otak kita masing-masing, pikir saya begini, antara pola pikir orang kota dan pola pikir orang desa, kenapa harus di pisahkan,kalian lupa ya,kalu kita sejatinya hidup di agraris yang kental? kota dan desa seakan menjadi 2 hal yang sangat berlawanan. memang sejatinya itu adalah dua hal yang berbeda, cuma perbedaan yang dimaksud di sini adalah perbedaan teritorial semata, kalaupun sampai ada perbedaan masalah pola pikir,pergaulan,atau apapun yang bisa melepaskan kita dari sebuah persatuan,saya rasa kalian harus lebih dewasa menyikapinya! saya ingat perkataan orang-orang tua jaman dahulu “Nek ora enek wong ndeso,kowe wis mati kaliren le” atau dalam bahasa indonesia nya “kalau tidak ada orang desa,kamu sudah mati kelaparan” pikir lagi deh,perkataan itu, saya rasa benar. terserah menurut kalian, apa kita mau selamanya menjadi budak konsumen orang asing?. Apalagi akhir-akhir ini saya sering menjumpai show-show spektakuler yang mampir ke kota solo dengan me label kan KEBUDAYAAN dengan biaya ratusan juta! ini satu bentuk komoditas kalau saya rasa! bukanya alih fungsi sih,cuman sedikit melenceng dari labelnya! nah,kadang itu yang jadi daya tarik remaja untuk malahan sangat antusias menghadiri pentas spektakuler itu. “apa menurut mereka sekaten tidak spektakuler?” tapi coba lihat panggung mengah yang berdiri di tanah kota ini,tapi bukan masyarakat kota ini yang ada di atas panggung megah itu,bukanya kita kaya dengan ragam budaya? bukanya sewaktu kita sekolah dulu kita harus mengikuti pelajaran tentang kebudayaan? tapi hanya orang yang berada di balik tirai petinggilah yang di anggap bertalenta dan layak berada di antara mereka ! apa itu adil? saya keliru? saya merasakan,saya punya banyak fakta! bahkan saya berfikir,ini nepotisme dalam seni dan budaya. saya sebetulnya,tidak begitu peduli dengan apa yang mereka inginkan dari setiap pagelaran yang mereka sajikan. ada yang orientasinya uang,ada yang ingin mengenalkan,ada yang ingin mempertahankan nilai, terserahlah, ya,semoga tujuan mereka positif untuk kota ini. lagi,kita lebih antusias untuk datang ke mall “setiap hari” dibanding datang ke sekaten “Sebulan sekali” kenapa? ada yang salah dengan sekaten?
Ini sepenggal cerita saya ketika baru saja saya mengunjungi sekaten solo “semalam sebelum saya menulis ini” seperti orang pada umumnya, berjalan-jalan,menikmati wahana,kuliner dan membeli sedikit oleh-oleh tanah liat yang memang sudah saya dan kawan-kawan rencnakan sebelumnya. saya bertemu dan sedikit berbincang dengan kakek dan nenek penjual mainan tanah liat itu seusai saya bertransaksi. “tapi sayang nya saya lupa tanya nama! hehe”
saya: mbah, daleme pundi? ( kek,rumahnya mana?)
kakek: jeporo le (jepara nak)
saya: sampun dangu mbah mande ngeten niki? (sudah lama berjualan barang seperti ini)
kakek: koe sok durung lair le,aku dodolan ket taun 1977,awiwit banjir gede kae (kamu,pasti belum lahir nak,saya jualan sejak tahun 1977,pasca banjir besar yang melanda kota solo dulu)
saya: weh,nggih dangu sanget nggih mbah? niku mbahe nggih sadean teng sekaten solo mriki terus wanci taunipun? (weh,lama juga ya mbah,itu kakek jualan di sekaten solo ini setiap tahun nya?)
kakek: ho’o nak, tapi saiki sekaten wis ora koyo ndisik,sepi,gek arang payu,nek payupun bathine jane yo ora sepiro’o nak,nanging yo rapopolah,wis ora jamane sok’e ( iya nak,tapi sekarang sekaten sepi sudah tidak seperti dulu,jarang laku,kalaupun laku laba yang di dapat gak seberapa,tapi ya gak apalah,mungkin sudah tidak jaman nya) “ketika kakek itu menjawab demikian,saya jelas melihat raut wajar kakek yang sangat kecewa,tapi mulut kakek itu sembari menyiratkan senyum kecil,mungkin isyarat bahwa kakek itu tetap bersyukur dengan apapun yang ia dapatkan. ini motivasi ! lanjut saya berbincang..
saya: loh,kok mboten sepiro’o mbah batine? la nopo bahan ne niki tumbas sedanten? (loh kok gak seberapa kek,apa semua bahan ini beli?)
kakek: iki kulakan le, wis enek juragane dewe (ini semua kakek ambil dari juragan kakek nak) “saya sangat terkejut,dan saya tidak mau bertanya lebih jauh masalah si tuan yang menjadi bos dari kakek tersebut!,di benak saya hanyalah,semoga kakek ini mendapat upah dan laba yang setimpal dengan jerih payah nya yang luar biasa,di usia yang sudah tua”
sebenarnya ada beberapa pertanyaan ringan yang saya obrolkan dengan kakek itu,cuman saya cuman tulis beberapa poin penting dari obrolan ringan saya dengan si kakek. dan saya rasa kakek itu adalah 1 dari puluhan orang yang mungkin merasakan hal yang sama, ya,dampak dari semakin mengikisnya antusias orang untuk mengunjungi sekaten “apalagi remaja” kalaupun ada yang mau datang tujuan utamanya tidaklah ke area mainan tanah liat yang dulu seakan jadi barang wajib yang harus di beli jika kita berkunjung ke sekaten. ,elainkan ke warung-warung makanan “yang sebenarnya bisa kita jumpai setiap hari,dimanapun” atau ke tempat-tempat yang memang di display layaknya tempat hang-out yang meriah “mungkin ini strategi pemasaran”. statement saya barusan bukan berarti saya mengindikasikan kalian untuk tidak makan di warung sekaten, atau lebih mempromosikan barang-barang si kakek dan kawan-kawan nya yang saya ceritakan di atas tadi. bukan! saya rasa kalian tau maksud saya. nah,poin yang saya ambil dari kunjungan saya ke tahun-tahun belakangan ini adalah,sekaten memang salah satu budaya asli kota kita,tapi modernisasi yang setiap hari di hadapkan di lingkungan kita lama-lama mendikte kita untuk ikut di dalam nya,lagi-lagi masalah ini, dan ternyata dampak dari globalisasi,modernisasi,atau segala bentuk kemajuan dan kemudahan di era sekarang berdampak di banyak kalangan. ironis bukan?!! sekarang tinggal bagaimana kita menyikapinya,hidup memang harus seimbang,dan bagaimana cara kita menyeimbangkan,itu pilihan hidup kalian. pesan saya,jangan buka mata dan pikiran kalian saat buadaya kita di klaim bangsa lain saja,tapi bukalah keduanya setiap saat,karena kita lekat dengan budaya itu sendiri.kita wajib,berhak untuk melestarikan nya,jika kita rela melestarikan budaya kita,dan kita menjadi orang yang berbudaya “bukan budayawan” pasti hidup akan lebih harmonis. semoga.

-cix moreno-

No comments:

Post a Comment